Aku tersenyum kepada pelayan Wanita yang mengantarkan Chapuccino hangat dengan tetesan susu coklat di atas nya, minuman favoritku di Cafe VGL ini. Setelah wanita muda tersebut pergi, segera ku – seruput minuman tersebut dengan harapan dapat menghangatkan diriku karena diluar sana hujan telah membasahi bumi dengan ganas nya, seakan hendak menghancurkan apa saja yang ia timpa.
Mata ku menyapu seluruh ruangan cafe. Rata – rata semua pengunjung yang datang berdua dengan couple mereka. Ada juga yang bertiga, berempat yang mungkin keluarga atau rekan bisnis mereka. Hanya aku yang sendirian dan hanya diriku pula yang mengenakan seragam SMA. Sepulang sekolah aku sengaja tak langsung kerumah, aku ingin menikmati siang-ku dengan mampir ke cafe ini, cafe favorit-ku dan juga cafe favorit dia.
***
Siang itu matahari bersinar tak begitu terik. Aku, Shilla dan Cakka berjalan santai menyusuri jalanan sepulang sekolah. Rumah kami bertiga saling berdekatan. Rumah Cakka disebelah kiri rumah ku, sedangkan rumah Shilla berada di sebelah kanan. Seperti biasa, kami selalu berangkat bersama dan pulang bersama. Tanpa kendaraan, karena rumah kami dengan SMA PERMATA, tempat kami menuntut ilmu tidak lah jauh. Hanya 15 menit dengan berjalan kaki.
“Eh kita ke Cafe biasa dulu yuk. Aku yang traktir deh” sela Cakka memotong pembicaraan – ku dengan Shilla. Aku dan Shilla saling pandang lalu kompak mengangguk. “Oke sip, tapi naik taksi atau bis yah. Capek ah kalo mau jalan” pinta – ku dengan tatapan memelas. Shilla terkekeh melihat tingkah – ku itu. Kulihat Cakka tampak memikirkan sesuatu lalu mengangguk sembari berkata, “Oke, tapi pulang nya aja yah. Gimana?” rupa nya dia memberi penawaran. Aku pun hanya bisa mengangguk pasrah. Tak bisa berbuat apa – apa, karena aku tak akan rela mengeluarkan uang sepeser pun.
Sesampai nya di cafe, kami segera memilih tempat di paling pojok, jauh dari keramaian orang – orang lain nya. Setelah memesan 3 buah Chapuccino hangat, kami pun kembali larut dalam obrolan panjang. Entah hanya perasaan ku saja atau memang benar. Aku merasa ada yang aneh saat Shilla menatap Cakka, begitu juga sebalik nya saat Cakka menatap wajah manis milik Shilla. Tatapan mereka seperti tatapan sepasang kekasih. Apa ada benih – benih cinta diantara persahabatan kami 2 tahun ini sejak kami masuk SMA?? Apa persahabatan kami yang dihuni Cakka yang merupakan satu – satu nya laki – laki membuat Shilla suka pada nya?? Gatal memendam kebingungan aku pun bertanya dengan sedikit ragu, “Kalian pacaran yah?” mataku memandangi Shilla dan Cakka bergantian. Ku lihat pipi Shilla bersemu merah dan Cakka yang menjadi salting sendiri.
“Hello... Kalian beneran pacaran?” ada perasaan tak ikhlas dalam hatiku saat mengatakan hal itu. “Ah enggak kok. Belum. Masih dalam proses PDKT” jawab Cakka malu – malu.
DEGG!! Jantungku serasa berhenti. Jadi benar mereka saling suka?? Lemas semua persendian ku. Aku hanya bisa tersenyum kecut saat mereka saling memuji satu sama lain. Tak tahukah kau Shill aku cemburu??
***
Setelah kejadian di cafe itu, aku kini telah jarang bermain bersama Shilla dan Cakka. Jangan kan berkumpul bersama seperti dulu, bertegur sapa pun selalu aku hindari. Aku ingin menghindari mereka berdua. Bukan, bukan karena aku tak mau menganggap mereka sahabatku lagi. Bukan itu. Aku hanya ingin mencoba menghindari perasaan ku yang selalu terbakar cemburu saat melihat Cakka dan Shilla berduaan. Aku ingin membuang semua rasa-ku itu. Tapi tak bisa, sekuat apa pun aku mencoba menghapus bayangan diri nya, justru semakin kuat ia menari – nari di otakku. Terkadang jika tak sengaja ku lihat Shilla dan Cakka berduaan, kadang terbesit di fikiran ku bahwa mereka telah berpacaran. Lalu saat itu juga hatiku akan menangis. Ya hanya hatiku yang menangis. Aku tak mau semua orang menertawakan ku karena rasa ini.. Rasa cinta dan sayang ini pada nya..
“Kami berdua punya kabar gembira” siang itu sepulang sekolah, tiba – tiba saja Cakka dan Shilla mencegat ku saat aku hendak keluar kelas. Kami bertiga memang tak satu kelas, aku di kelas XI IPA 1 sedangkan Shilla di XI IPA 2. Sementara Cakka, dia lebih memilih mengambil jurusan IPS, dan dia duduk dikelas XI IPS 1.
Kabar gembira?? Apa kabar gembira itu kabar bahwa kalian telah pacaran Shill??
“A.. Apa kabar gembira nya?” tanyaku tergagap. Ku – lihat mereka saling pandang dan tersenyum penuh arti. Oh Tuhan, seperti nya dugaan ku tepat. Apa aku akan sanggup mendengar semua nya Tuhan?? Apa aku sanggup??
“Aku sama Cakka..” lagi – lagi mereka berdua saling pandang dengan senyum yang tak bisa aku rasakan.
“Aku sama Cakka mau ngajak kamu ke cafe VGL, kan udah lama kita gak kesana bertiga. Kamu mau kan?” lanjut Shilla dengan senyuman yang seakan memintaku agar menerima ajakan itu. Aku bisa merasakan udara segar saat Shilla melanjut kan ucapan nya. Ternyata dugaan ku salah. Terima kasih Tuhan Kau masih membantuku menyembunyikan perasaan ini pada nya.
“Gimana?” desak Yigal yang menanti jawaban ku. “Maaf, bukan aku gak mau. Tapi aku gak bisa” tolakku mencoba dengan suara sebiasa mungkin. Tergambar jelas kekecewaan di raut wajah mereka berdua. “Kenapa?? Kamu marah yah sama aku?? Atau marah sama Cakka?” pertanyaan Shilla seperti sebuah belati yang menghujam ulu hatiku. Bagaimana mungkin aku bisa marah sama kalian?? Kalian gak salah. Tapi rasaku ini yang salah. Batinku menangis.
“Enggak kok. Lagian ngapain aku marah sama kalian?? Aku bener-bener gak bisa karena ada acara keluarga kecil – kecilan di rumah tanteku” jawabku berbohong. “Bukan karena marah sama kami berdua?” Cakka ikut bertanya. Aku tergelak sambil geleng – geleng kepala. “Lalu kenapa kamu seperti selalu menghindari aku ataupun Cakka?” tanya Shilla lagi.
“Seperti nya kan?? Bukan sebenar nya?? Udah ah. Aku gak marah kok sama kalian. Dan maaf aku gak bisa nerima ajakan kalian itu. Kalian berdua aja yang pergi” ujarku lalu berlalu meninggal kan Cakka dan Shilla yang memandangku dengan raut wajah penuh kekecewaan.
“Maaf kan aku.. Aku telah bikin kalian kecewa lagi.. Oh Tuhan.. Aku mohon hilangkan rasa ini.. Rasa gila ku ini” rutukku dalam hati. Tanpa aku sadari sebulir air mata terjatuh di kedua pipiku.
****
Aku tersenyum kecut saat mengingat kejadian itu. Hampir seminggu sudah kejadian itu berlalu dan sampai sekarang aku masih belum bisa dan belum mau bertatap muka dengan Shilla mau pun Cakka. Aku tak mau rasa GILA ku itu makin membuncah.
Lagi, aku menyeruput Chapuccino ku yang tinggal seperempat gelas itu. Ku habiskan lalu aku pergi beranjak setelah sebelum nya menaruh uang untuk membayar minuman ku tersebut di atas meja tempat aku menikmati nya tadi.
Sesampai nya di depan pintu langkah ku terhenti. Jantungku berdegup kencang, nafas ku memburu dan hatiku terasa hancur. Di hadapan ku berdiri 2 orang yang tak asing lagi bagi ku. Cakka dan Shilla hendak masuk ke dalam cafe dan langsung tersenyum saat melihat ku keluar dari dalam cafe tersebut. Mereka berdua saling bergandengan tangan mesra.
“Hey Vi.. kebetulan kamu ada disini. Ada yang mau aku kasih tau ke kamu” seru Shilla riang. Aku tersenyum tipis, rasa cemburu di dadaku kian memburu. Ku perhatikan Cakka yang juga tampak bahagia itu. Oh Tuhan, kenapa kau beri aku rasa ini?? .
“ Apa kabar bahagia nya tentang Kalian pacaran?” tanya ku bergetar berusaha menahan tangis. Aku telah siap mendengar jawaban dari mereka.
“Iya.. Baru aja beberapa jam yang lalu” jawab Shilla riang sambil bergelayutan mesra di lengan Cakka yang tersenyum manis.
“Selamat yahhh, semoga hubungan kalian bertahan lama” jawabku dengan serak. Shilla dan Cakka mengangguk tersenyum.
“Masuk yuk Vi, aku yang traktir deh” Cakka membuka suara nya. Aku menggeleng lemah. “Gak usah Kka, aku udah tadi. Kalian berdua aja. Aku mau pulang. Daaa” segera aku keluar dari cafe itu dengan membawa cemburu yang membakar hatiku.
“Viaa.. Vi.. mau kemana?? Hujan turun lagi tuh” tak ku hiraukan seruan Shilla dan Cakka yang memanggil nama ku. Aku terus saja berjalan menerobos hujan yang turun lagi setelah sempat reda. Seperti nya ia ikut merasakan sakit hatiku..
Aku terus berjalan tak perduli pakaian ku telah basah oleh air hujan, aku tak peduli suara klakson mobil dan motor yang ditujukan padaku.. Aku tak peduli semua nya.. Aku merutuki diriku sendiri, Perasaan terlarang ku ini.. Tapi aku tak bisa memungkiri hatiku.. Sungguh aku sayang dan cinta pada Shilla..
Maaf kan aku Shill,, maaf kan aku Kka.. Tak sepantas nya aku memiliki rasa ini.. Tapi aku sungguh cinta kamu Shill.. Aku gak tahu kenapa aku bisa mempunyai rasa terlarang ini.. Aku gak sanggup saat melihat kau bersama Cakka.. Oh Tuhan aku mohon hilangkan semua rasa cinta ku pada Shilla Tuhan..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar